Bahasa Jawa Kelas X / Kelas 1 SMA

Selasa, 22 April 2014
Posted by Unknown

contoh teks eksposisi bahasa jawa

CARA GAWE KOPI

Cara Ngawe Kopi Iku Gampang. Aku Arep Ngandani Wong Sing Rak Iso Ngawe Kopi Utowo Wong Kang Kon Gawe Paragraf Eksposisi Sing Gunakake Bahasa Jawa.

Piranti : Bahane :
1. Gelas 1. Kopi
2. Sendok 2. Gula

Cara Gawene :
1. Campurke 1 Sendok Gulo lan 3 Sendok Gulo Neng Gelas
2. Jeri Campuran Kuwi Gawa Banyu Anget
3. Udek Gula Sampek Ilang
4. Campuri Kopi Ngawa Seres Utawa Susu Cair.

Kopi Uwenak Uwes Dadi

 

.................................................................................................................................................................

SISKAMLING

  sistem keamanan lingkungan lumrahe dicekak siskamling, iku pinangka gegenengane para wargane RT lan RW ing babagan njaga tata tentreme bebrayan. tata tentreme kampung ora mung dadi tanggung jawabe para nara praja, nanging uga dadi tanggung jawabe wargane kampung.

  majune jaman pranyata uga dibarengi karo majune tumindak dursila. mula jaman uga kudu dikhanteni undhake kawaspadan ing bab njaga tata tentreme bebrayan. umpane, sarana nindakake sistem keamanan lingkungan utawa siskamling kuwi. cakcane siskamling kuwi upamane anane rondha, pranatane kampung kang majibake para wargane kampung gawe kenthongan, pranatan manawa ana tamu sing nginep kudu dilapurake marang pangarsane RT utawa RW, lelungan adoh kudu nggawa surat katrangan, pindhah alamat kudu lapur marang kang kawongan, lan liya liyane.

  kajaba bab-bab kaya kang kasebut ing dhuwur kuwi, ora lali para wargane kampung uga kudu tansah njaga kawilujengane dhewe-dhewe, sarana ngudhakake pangati-atine. umpamane, ing wayah bengi cendhela lan lawang kudu diinep lan dikancing, lan ora ninggal barang gletak-gletek saenggon-enggon.

  manawa kabeh wargane kampung padha njaga kawilujengane dhewe-dhewe, lan munggahe padha gotong royong guyup rukun njaga tentreme kampunge, wis mesthi kahanane bebrayan tansah ayem tentrem, adoh ing rasa was sumelang.

Jackie Chan membuat Boyband sendiri

Sang maestro martial art, Jackie Chan, sedang menggarap project dalam bidang musik, yaitu membuat boyband. Bintang film yang terkenal karena aksinya jarang menggunakan stuntman ini pun menjanjikan bahwa \'pendekar-pendekar\' asuhannya itu akan muncul di bulan Maret ini.

Dilansir dari Shanghaiist.com, akhirnya Jackie Chan mengungkap sedikit bocoran tentang boyband bernama JJCC atau disebut Double JC ini. Para personel ganteng yang lebih ke arah cowok cantik ini terdiri dari 4 orang Korea Selatan dan satu orang keturunan China-Australia.

Kelima member ini masih berusia 20-an awal. Jackie Chan mengatakan bahwa ia dengan grup musik buatannya ini membawa misi untuk menggabungkan budaya Asia dalam karya-karyanya. Menurut CEO Sha-Sha Lee, para pria ini tak hanya ganteng, namun juga dipilih yang mampu menyanyi, nge-rap, menari dan berakting. Seleksi dan pembentukannya saja makan beberapa tahun, lho.

Mungkin masih banyak yang meragukan kemampuan seorang Jackie Chan dalam bidang musik. Namun jangan lupa bahwa pria 59 tahun ini juga sempat aktif dalam dunia tarik suara. Apakah ada yang berbeda dengan boyband ini dibanding dengan boyband asal Korea lainnya? Well, kita lihat saja.

So far, teaser yang mereka buat cukup menyegarkan mata dengan hadirnya lima pria ganteng, terutama bagi pecinta boyband K-pop. Ada yang sudah jatuh cinta hanya dengan melihat teasernya saja?

Selasa, 15 April 2014
Posted by Unknown
Tag :

Angin

A.PENGERTIAN ANGIN
Angin adalah udara yang bergerak akibat rotasi bumi dan perbedaan tekanan udara di sekitarnya. Angin bergerak dari tempat bertekanan udara tinggi ke bertekanan udara rendah.

B.PROSES DAN FAKTOR TERJADINYA ANGIN
Apabila dipanaskan, udara memuai. Udara yang telah memuai menjadi lebih ringan sehingga naik. Apabila hal ini terjadi, tekanan udara turun karena udaranya berkurang. Udara dingin di sekitarnya mengalir ke tempat yang bertekanan rendah tadi. Udara menyusut menjadi lebih berat dan turun ke tanah. Di atas tanah udara menjadi panas lagi dan naik kembali.Aliran naiknya udara panas dan turunnya udara dingin ini dinamakan konveksi.

Faktor-faktor yang menyebabkan angin terhadi antara lain adalah:

Gradien Barometris, yaitu bilangan yang menunjukkan perbedaan tekanan udara dari dua isobar yang jaraknya 111 km. Makin besar gradien barometrisnya, makin cepat tiupan anginnya. Lokai, kecepatan angin di dekat khatulistiwa lebih cepat daripada angin yang jauh dari garis khatulistiwa. Tinggi Lokasi, semakin tinggi lokasinya semakin kencang pula angin yang bertiup. Hal ini disebabkan oleh pengaruh gaya gesekan yang menhambat laju udara. Di permukaan bumi, gunung, pohon, dan topografi yang tidak rata lainnya memberikan gaya gesekan yang besar. Semakin tinggi suatu tempa, gaya gesekan ini semakin kecil. Waktu, Angin bergerak lebih cepat pada siang hari, dan sebaliknya terjadi pada malam hari. Sebenarnya yang kita lihat saa angin berhembus adalah partikel-partikel ringan seperti debu yang terbawa bersama angin. Angin bisa kita rasakan hembusannya karena kita mempunyai indra perasa, yaitu kulit, sehingga kita bisa merasakannya.

C.SIFAT-SIFAT ANGIN
Beberapa sifat angin antara lain:

Angin menyebabkan tekanan terhadap permukaan yang menentang arah angin tersebut. Angin mempercepat pendinginan dari benda yang panas. Kecepatan angin sangat beragam dari tempat ke tampat lain, dan dari waktu ke waktu.

D.KECEPATAN ANGIN
Kecepatan angin ditentukan oleh perbedaan tekanan udara antara tempat asal dan tujuan angin dan resistensi medan yang dilaluinya.

E.JENIS-JENIS ANGIN

1.Angin laut dan Angin Darat

a. Angin Laut
Angin laut adalah angin yang bertiup dari arah laut ke arah darat yang umumnya terjadi pada siang hari dari pukul 09.00 sampai dengan pukul 16.00. Angin ini bisa dimanfaatkan para nelayan untuk pulang dari menangkap ikan di laut.

b.Angin Darat
Angin darat adalah angin yang bertiup dari arah darat ke arah laut, yang pada umumnya terjadi saat malam hari, dari jam 20.00 sampai dengan 06.00.

Angin jenis ini bermanfaat bagi para nelayan untuk berangkat mencari ikan dengan perahi bertenaga angin sederhana.

2.Angin Lembah dan Angin Gunung

a.Angin Lembah Angin Lembah adalah angin yang bertiup dari arah lembah ke puncak gunung dan biasa terjadi pada siang hari.

b.Angin Gunung Angin Gunung adalah angin yang bertiup dari puncak gunung ke lembah gunung dan terjadi pada malam hari.

3.Angin Fohn

Angin Fohn (Angin Jatuh) adalah angin yang terjadi sesuai hujan Orografis. Angin yang bertiup pada suaatu wilayah dengan temperatur dan kelengasan yang berbeda.

Angin Fohn terjadi karena ada gerakan massa udara yang naik pegunungan yang tingginy lebih dari 200 meter , naik di satu sisi lalu turun di sisi lain. Angin Fohn yang jatuh dari puncak gunung bersifat panas dan kering , karena uap air sudah di buang pada saat hujan orografis.

Biasanya angin ini bersifat panas merusak dan dapat menimbulkan korban. Tanaman yang terkena angin ini bisa mati dan manusia yang terkena angin ini bisa turun daya tahan tubunya terhadap serangan penyakit.

4.Angin Muson

Angin muson atau biasanya disebut sengan angin musim adalah angin yang berhembus secara periodik (minimal 3 bulan) dan antara periode yang satu dengan periode yang lain polanya akan berlawan yang berganti arah secara berlawanan setiao setengah tahun.

Angin Muson terbagi atas dua macam,yaitu :

a.Angin Muson Barat
Angin Musim/Muson Barat adalah angin yang mengalir dari benua Asia (musim dingin) ke Benua Australia (musim panas) dan mengandung curah hujan yang banyak di Indonesia bagian barat, hal ini disebabkan karena angin melewati tempat yang luas, seperti perairan dan samudra. Contoh perairan dan samudra yang dilewati adalah Laut China Selatan dan Samudra Hindia. Angin Musim Barat menyebabkan Indonesia mengalami musim hujan. Angin ini terjadi pada bulan Desember, Januari dan Februari, dan maksimal pada bulan januari dengan Kecepatan Minimum 3 m/s.

b. Angin Muson Timur
Angin Musim/Muson Timur adalah angin yang mengalir dari Benua Australia( musim dingin) ke Benua Asia (Musim panas) sedikit curah hujan ( kemarau) di Indonesia bagian timur karena angin melewati celah-celah sempit dan berbagai gurun (Gibson, Australia Besar, dan Victoria). Ini yang menyebabkan indonesia mengalami musim kemarau. Terjadi pada bulan juni, juli dan Agustus, dan maksimal pada bulan juli.

F.ALAT UNTUK MENGUKUR ANGIN
Alat untuk mengukur angin antara lain:

Anemometer, adalah alat yang mengukur kecepatan angin.

Wind Vane, adalah alat untuk mengetahui arah angin.

Windsock, adalah alat untuk mengetahui arah angin dan memperkirakan besar kecepatan angin, yang biasanya banyak ditemukan di bandara-bandara.

Perubahan Iklim Global

     PERUBAHAN IKLIM GLOBAL Dewasa ini meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca (CO2, CH4, CFC, HFC, N2O), terutama peningkatan konsentrasi CO2, di atmosfir menyebabkan terjadinya global warming (peningkatan suhu udara secara global) yang memicu terjadinya global climate change (perubahan iklim secara global). Fenomena ini memberikan berbagai dampak yang berpengaruh penting terhadap keberlanjutan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya di planet bumi ini, di antaranya adalah pergeseran musim dan perubahan pola/distribusi hujan yang memicu terjadinya banjir dan tanah longsor pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau, naiknya muka air laut yang berpotensi menenggelamkan pulau-pulau kecil dan banjir rob, dan bencana badai/gelombang yang sering meluluhlantakan sarana-prasarana penopang kehidupan di kawasan pesisir. Perubahan iklim global sebagai implikasi dari pemanasan global telah mengakibatkan ketidakstabilan atmosfer di lapisan bawah terutama yang dekat dengan permukaan bumi. Pemanasan global ini disebabkan oleh meningkatnya gas-gas rumah kaca yang dominan ditimbulkan oleh industri-industri. Gas-gas rumah kaca yang meningkat ini menimbulkan efek pemantulan dan penyerapan terhadap gelombang panjang yang bersifat panas (inframerah) yang diemisikan oleh permukaan bumi kembali ke permukaan bumi. Pengamatan temperatur global sejak abad 19 menunjukkan adanya perubahan rata-rata temperatur yang menjadi indikator adanya perubahan iklim. Perubahan temperatur global ini ditunjukkan dengan naiknya rata-rata temperatur hingga 0.74oC antara tahun 1906 hingga tahun 2005. Temperatur rata-rata global ini diproyeksikan akan terus meningkat sekitar 1.8-4.0oC di abad sekarang ini, dan bahkan menurut kajian lain dalam IPCC diproyeksikan berkisar antara 1.1-6.4oC. A. Pengertian Perubahan Iklim Global Iklim merupakan sintesis kejadian cuaca selama kurun waktu yang panjang, yang secara statistik cukup dapat dipakai untuk menunjukkan nilai statistik yang berbeda dengan keadaan pada setiap saatnya (World Climate Conference, 1979). Sedangkan menurut Paulus Winarso (2007) iklim adalah rata-rata kondisi fisis udara(cuaca) pada kurun waktu tertentu (harian, mingguan, bulanan, musiman dan tahunan yang diperlihatkan dari ukuran catatan unsur-unsurnya (suhu, tekanan, kelembaban, hujan, angin, dan sebagainya). Menurut Hidayati (2007) studi tentang iklim mencakup kajian tentang fenomena fisik atmosfer sebagai hasil interaksi proses-proses fisik dan kimiafisik yang terjadi di udara (atmosfer) dengan permukaan bumi. Keduanya saling mempengaruhi, aktivitas atmosfer dikendalikan oleh fisiografi bumi, dan fluktuasi iklim berpengaruh terhadap aktivitas di muka bumi. Iklim selalu berubah menurut ruang dan waktu. Dalam skala waktu perubahan iklim akan membentuk pola atau siklus tertentu, baik harian, musiman, tahunan maupun siklus beberapa tahunan . Selain perubahan yang berpola siklus, aktivitas manusia menyebabkan pola iklim berubah secara berkelanjutan, baik dalam skala global maupun skala lokal. Menurut Kolaborasi Bali Climate Change (2007) Perubahan Iklim Global adalah perubahan pola perilaku iklim dalam kurun waktu tertentu yang relatif panjang (sekitar 30 tahunan). Sedangkan menurut Agus Winarso (2007) Perubahan Iklim Global adalah perubahan unsur-unsur iklim (suhu, tekanan, kelembaban, hujan, angin,dan sebagainya) secara global terhadap normalnya.. Ini bisa terjadi karena efek alami. Namun, saat ini yang terjadi adalah perubahan iklim akibat kegiatan manusia. Perubahan iklim terjadi akibat peningkatan suhu udara yang berpengaruh terhadap kondisi parameter iklim lainnya. Perubahan iklim mencakup perubahan dalam tekanan udara, arah dan kecepatan angin, dan curah hujan. B. Perubahan Iklim Global Indonesia Belum ada data komprehensif mengenai dampak perubahan iklim di Indonesia. Namun beberapa data menunjukkan bahwa: 1. Suhu rata-rata tahunan menunjukkan peningkatan 0,3 derajat Celcius sejak tahun 1990. 2. Musim hujan datang lebih lambat, lebih singkat, namun curah hujan lebih intensif sehingga meningkatkan risiko banjir. Pada 2080 diperkirakan sebagian Sumatera dan Kalimantan menjadi 10-30% lebih basah pada musim hujan; sedangkan Jawa dan Bali 15% lebih kering. 3. Variasi musiman dan cuaca ekstrim diduga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di Selatan Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi (CIFOR 2004). 4. Perubahan pada kadar penguapan air, dan kelembaban tanah akan berdampak pada sektor pertanian dan ketahanan pangan. Perubahan iklim akan menurunkan kesuburan tanah sekitar 2% sampai dengan 8%, diperkirakan akan mengurangi panen padi sekitar 4% per tahun, kacang kedelai sekitar 10%, dan jagung sekitar 50%. 5. Kenaikan permukaan air laut akan mengancam daerah dan masyarakat pesisir. Sebagai contoh air Teluk Jakarta naik 57 mm tiap tahun. Pada 2050, diperkirakan 160 km2 dari Kota Jakarta akan terendam air, termasuk Kelapa Gading, Bandara Sukarno-Hatta dan Ancol (Susandi, Jakarta Post, 7 Maret 2007). Di Bali kerusakan lingkungan pada 140 titik abrasi dari panjang pantai sekitar 430 km. Laju kerusakan pantai di Bali diperkirakan 3,7 km per tahun dengan erosi ke daratan 50-100 meter per tahun (Bali Membangun, 2004). Kerusakan ini ditambah potensi dampak dari perubahan iklim diduga akan menyebabkan muka air laut naik 6 meter pada 2030, sehingga Kuta dan Sanur akan tergenang (Bali Post, 16 Agustus 2007). Hal ini mengancam keberlangsungan pendapatan dari pariwisata yang mengandalkan kekayaan dan keindahan pantai dan laut di Bali. Daerah yang lebih ‘aman’ adalah pantai berkarang yang bersifat terjal, seperti Uluwatu dan Nusa Penida serta daerah perbukitan dan pegunungan yang saat ini mempunyai ketinggian di atas 50 meter. 6. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menghadapi risiko kehilangan banyak pulau-pulau kecilnya dan penciutan kawasan pesisir akibat kenaikan permukaan air laut. Wilayah Indonesia akan berkurang dan akan ada pengungsi dalam negeri. 7. Dampak kenaikan muka air laut akan mengurangi lahan pertanian dan perikanan yang pada akhirnya akan menurunkan potensi pendapatan rata-rata masyarakat petani dan nelayan. Kerusakan pesisir dan bencana yang terkait dengan hal itu akan mengurangi pendapatan negara dan masyarakat dari sektor pariwisata. Sementara itu, negara harus menaikkan anggaran untuk menanggulangi bencana yang meningkat, mengelola dampak kesehatan, dan menyediakan sarana bagi pengungsi yang meningkat akibat bencana. Industri di kawasan pesisir juga kemungkinan besar akan menghadapi dampak ekonomi akibat permukaan air laut naik. Kesemuanya ini akan meningkatkan beban anggaran pembangunan nasional dan daerah. Dampak-dampak ini memang sering dikatakan sebagai ”diperkirakan”, tetapi perubahan pola cuaca, intensitas hujan dan musim kering, serta peningkatan bencana sudah mulai kita rasakan sekarang, tidak perlu menunggu 2030 atau 2050. Kalau peningkatan suhu rata-rata bumi tidak dibatasi pada 2oC maka dampaknya akan sulit dikelola manusia maupun alam C. Penyebab Perubahan Iklim Global Penyebab perubahan iklim global seharusnya dibiarkan terjadi secara alami. Namun, campur tangan manusia terhadap alam semesta telah mempercepat perubahan tersebut secara signifikan. Pemanasan Global Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), sebuah wadah diskusi Internasional yang khusus menyoroti tentang perubahan iklim dunia, pada 2007 lalu telah menyatakan secara eksplisit apa yang terjadi muka bumi ini. Di antaranya isu pemanasan global yang telah dan sedang terjadi saat ini, temperatur bumi yang makin meningkat sebagai dampak dari tangan-tangan manusia, dilihat dari gejala yang sedang terjadi sekarang seperti suhu yang ekstrem, gelombang panas bumi, dan hujan lebat yang turun tidak sesuai dengan siklusnya dalam frekuensi yang terus meningkat. Dapat dipastikan, hal-hal tersebut akan terus meningkat pada tahun-tahun selanjutnya. Pada 2009 akhir, kondisi kaki Gunung Mount Everest terlihat cukup memprihatinkan. Es dan salju yang membentuk gletser pada puncak Mount Everest telah mencair hingga membentuk danau es. Kejadian ini mencemaskan para penduduk Nepal yang ada di sekitar kaki gunung. Untuk membicarakan hal tersebut kepala pemerintah Nepal bersama para perdana menterinya berdiskusi dengan cara berkumpul di kaki Gunung Everest. Tindakan ini merupakan inisiatif pemerintah terhadap perubahan iklim yang ternyata bukan hanya mempengaruhi kondisi geografis Nepal, namun juga kondisi bumi secara keseluruhan. Hasil pembahasan ini dibawa ke Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) PBB di Dalam konferensi itu disepakati beberapa hal untuk menghentikan perubahan iklim global. Di antaranya pengakuan mendesak bahwa suhu bumi tidak boleh naik 2 derajat Celcius, bantuan finansial untuk negara berkembang dalam bentuk dana iklim senilai 100 miliar dolar mulai tahun 2020, dan pengawasan terhadap janji mengurangi emisi CO2 namun prosentase kadar emisinya tidak ditentukan sampai batas tertentu. Untuk bisa melakukan semua ide tersebut dibutuhkan kerja keras seluruh pihak baik pemerintah maupun warga masyarakat tanpa terkecuali sebagai penduduk bumi. Memulai sesuatu memang tidak mudah, tapi dengan tekad yang kuat dan konsep yang tepat dan terarah, panas bumi dapat diturunkan hingga batas normal. Efek Rumah Kaca Perlu diketahui bahwa faktor utama penyebab terjadinya perubahan iklim global adalah adanya efek rumah kaca yang banyak digunakan untuk kegiatan industri yang dimulai sejak Revolusi Industri sejak abad 19. Lahan hijau banyak yang diratakan dengan tanah untuk dijadikan kawasan industri dengan dibangunnya bangunan-bangunan untuk kegiatan produksi dan pemukiman penduduk. Hal ini membuat penduduk dunia di berbagai belahan bumi berbondong-bondong melakukan migrasi dari desa ke kota untuk ambil bagian dalam kegiatan industri tersebut. Radiasi sinar matahari leluasa dipancarkan ke bumi dan terperangkap dalam rumah-rumah kaca. Hal ini menyebabkan peningkatan konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer bumi. Atmosfer pun mengalami peningkatan suhu. Penggunaan aerosol dan emisi gas nuangan yang tidak sesuai semakin menambah jumlah emisi yang terperangkap dalam rumah kaca. D. Dampak Perubahan Iklim Global Menurut laporan IPCC tahun 2001, bahwa suhu udara global sejak 1861 telah meningkat 0.6oC, dan pemanasan tersebut terutama disebabkan oleh aktifitas manusia yang menambah gas-gas rumah kaca ke atmosfer. IPCC memprediksi pada tahun 2100 akan terjadi peningkatan suhu rata-rata global akan meningkat 1.4 – 5.8 oC (2.5 – 10.4 oF). Dilaporkan pula bahwa suhu bumi akan terus meningkat walaupun konsentrasi GRK di atmosfer tidak bertambah lagi di tahun 2100, karena GRK yang telah dilepaskan sebelumnya sudah cukup besar dan masa tinggal nya (life time) cukup lama bisa sampa seratus tahun. Bila emisi GRK masih terus meningkat, para ahli memprediksi konsentrasi CO2 akan meningkat hingga 3x lipat pada awal abad ke 22 bila dibandingkan dengan kondisi pra-industri. Dampak dari pemanasan global terhadap lingkungan dan kehidupan, dapat dibedakan menurut tingkat kenaikan suhu dan rentang waktu (Gambar 1). Bila suhu bumi meningkat hingga 3oC diramalkan sebagian belahan bumi akan tenggelam, karena meningkatnya muka air laut akibat melelehnya es di daerah kutub, misalnya Bangladesh akan tenggelam. Bencana tzunami akan terjadi lagi di beberapa tempat, kekeringan dan berkurangnya beberapa mata air, kelaparan dimana-mana. Akibatnya banyak penduduk dari daerah-daerah yang terkena bencana akan mengungsi ke tempat lain. Peningkatan jumlah pengungsi di suatu tempat akan berdampak terhadap stabilitas sosial dan ekonomi, kejadian tersebut sudah sering kita dengar terjadi di Indonesia paska bencana. Perubahan yang lain adalah meningkatnya intensitas kejadian cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Perubahan-perubahan tersebut akan berpengaruh terhadap hasil pertanian, berkurangnya salju di puncak gunung, hilangnya gletser dan punahnya berbagai jenis flora dan fauna. Akibat perubahan global tersebut akan mempengaruhi kebijakan pemerintah dalam perencanaan dan pengembangan wilayah, pengembangan pendidikan dan sebagainya. Guna menghindari terjadinya bencana besar yang memakan banyak korban, para ilmuan telah membuat beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global. 1. Tinggi muka laut Peningkatan suhu atmosfer akan diikuti oleh peningkatan suhu di permukaan air laut, sehingga volume air laut meningkat maka tinggi permukaan air laut juga akan meningkat. Pemanasan atmosfer akan mencairkan es di daerah kutub terutama di sekitar pulau Greenland (di sebelah utara Kanada), sehingga akan meningkatkan volume air laut. Kejadian tersebut menyebabkan tinggi muka air laut di seluruh dunia meningkat antara 10 - 25 cm selama abad ke-20. Para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut akan terjadi pada abad ke-21 sekitar 9 - 88 cm (Gambar 2). Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 % daerah Belanda, 17.5% daerah Bangladesh dan banyak pulau-pulau. Dengan meningkatnya permukaan air laut, peluang terjadi erosi tebing, pantai, dan bukit pasir juga akan meningkat. Bila tinggi lautan mencapai muara sungai, maka banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Bahkan dengan sedikit peningkatan tinggi muka laut sudah cukup mempengaruhi ekosistem pantai, dan menenggelamkan sebagian dari rawa-rawa pantai. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negaranegara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi penduduk dari daerah pantai. 2. Mencairnya es di kutub utara Para ilmuan juga memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil, akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara sehingga populasi flora dan fauna semakin terbatas. Pada daerahdaerah pegunungan subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair dan musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. 3. Jumlah curah hujan Meningkatnya suhu di atmosfer akan berpengaruh terhadap kelembaban udara. Pada daerah-daerah beriklim hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan, sehingga akan meningkatkan curah hujan, rata-rata, sekitar 1 % untuk setiap 1oC F pemanasan. Dalam seratus tahun terakhir ini curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 %. Intensitas curah hujan telah meningkat akhir-akhir ini bila dibandingkan dengan waktu 1950 -1999. Para ahli telah memperkirakan perubahan curah hujan yang akan terjadi di Asia Tenggara (Lal et al., 2001 dalam Santoso dan Forner, 2006) bahwa presipitasi di Asia Tenggara akan meningkat 3.6% di tahun 2020-an dan 7.1% di tahun 2050, serta 11.3% di tahun 2080-an. Dengan menggunakan model simulasi (IS92a pakai dan tanpa aerosol) diperkirakan iklim di Asia Tenggara akan menjadi lebih panas dan lebih basah dari pada kondisi yang kita miliki saat ini (Gambar 3). Dengan berpeluang besar untuk terjadi banjir dan longsor di musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau. E. Dampak Perubahan Iklim Global terhadap Indonesia Perubahan iklim global akan memberikan dampak yang sangat parah bagi Indonesia karena posisi geografis yang terletak di ekuator, antara dua benua dan dua samudera, negara kepulauan dengan 81.000 km garis pantai dengan dua pertiga lautan, populasi penduduk nomor empat terbesar di dunia dengan tingkat kesadaran lingkungan yang rendah, degenerasi kearifan budaya lokal, pendidikan yang tidak memadai, keterampilan rendah, keterbelakangan iptek, kepedulian sosial minim, dibelit kemiskinan dan kesulitan ekonomi, kelemahan pemerintahan, korupsi, kurangnya kepemimpinan, serta kelakuan yang buruk dari pengusaha dan institusi internasional. Posisi geografis Indonesia menyebabkan bahwa pada setiap saat di dalam wilayah negara ini ada musim-musim yang saling berlawanan dan bersifat ekstrim, di satu wilayah terjadi kekeringan dan kekurangan air, di wilayah lain terjadi banjir. Pengamatan temperatur global sejak abad 19 menunjukkan adanya perubahan rata-rata temperatur yang menjadi indikator adanya perubahan iklim. Perubahan temperatur global ini ditunjukkan dengan naiknya rata-rata temperatur hingga 0.74oC antara tahun 1906 hingga tahun 2005. Temperatur rata-rata global ini diproyeksikan akan terus meningkat sekitar 1.8-4.0oC di abad sekarang ini, dan bahkan menurut kajian lain dalam IPCC diproyeksikan berkisar antara 1.1-6.4oC. Perubahan temperatur atmosfer menyebabkan kondisi fisis atmosfer kian tak stabil dan menimbulkan terjadinya anomali-anomali terhadap parameter cuaca yang berlangsung lama. Dalam jangka panjang anomali-anomali parameter cuaca tersebut akan menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Dampak-dampak yang ditimbulkan oleh perubahan iklim tersebut diantaranya adalah : 1. Semakin banyak penyakit (Tifus, Malaria, Demam, dll.) 2. Meningkatnya frekuensi bencana alam/cuaca ekstrim (tanah longsor, banjir, kekeringan, badai tropis, dll.) 3. Mengancam ketersediaan air 4. Mengakibatkan pergeseran musim dan perubahan pola hujan 5. Menurunkan produktivitas pertanian 6. Peningkatan temperatur akan mengakibatkan kebakaran hutan 7. Mengancam biodiversitas dan keanekaragaman hayati 8. Kenaikan muka laut menyebabkan banjir permanen dan kerusakan infrastruktur di daerah pantai Terdapat dua dampak yang menjadi isu utama berkenaan dengan perubahan iklim, yaitu fluktuasi curah hujan yang tinggi dan kenaikan muka laut yang menyebabkan tergenangnya air di wilayah daratan dekat pantai. Dampak lain yang diakibatkan oleh naiknya muka laut adalah erosi pantai, berkurangnya salinitas air laut, menurunnya kualitas air permukaan, dan meningkatnya resiko banjir. Musibah angin kencang dan gelombang pasang bisa terjadi setiap waktu dan sulit diprediksi jauh-jauh. Produksi pertanian, khususnya tanaman pangan, menjadi semakin sulit dan menimbulkan kerawanan pangan. Hubungan transportasi dan komunikasi antar pulau akan semakin sulit dan berbahaya. Semuanya akan bermuara pada disintegrasi negara kesatuan RI. Panjang garis pantai akan berkurang dengan naiknya permukaan laut, ratusan ribu kilometer persegi daratan di pesisir pantai akan hilang ditelan laut dan bersamanya akan ikut tenggelam pula kota -kota dan desa pesisir yang menjadi permukiman dari lebih seratus juta orang yang sebagian besar miskin serta asset dan infrastruktur bernilai trilyunan Euro. Pesatnya peningkatan permukaan laut ini tidak akan mampu diimbangi dengan kecepatan untuk memindahkan penduduk dan menggantikan infrastruktur yang hilang. Belum lagi tiadanya modal untuk melaksanakannya. Bencana besar itu akan datang dalam hitungan beberapa dekade saja apabila upaya antisipasi tidak dilakukan, baik secara regional maupun global. Kepedulian terhadap lingkungan sangat minim. Kearifan budaya lokal untuk menjaga keseimbangan lingkungan dikalahkan oleh kebutuhan ekonomi, keserakahan, serta inefisiensi dalam pemanfaatan sumberdaya. Erosi hutan alam terjadi dengan kecepatan tinggi menyebabkan banjir, tanah longsor dan kekeringan. Erosi hutan bakau menyebabkan abrasi pantai. Penduduk yang di pantai tenggelam, yang di gunung tertimbun, yang di tengah kehausan. Kebakaran dan pembakaran hutan menimbulkan asap yang menyesakkan bagi penduduk sendiri maupun penduduk negara tetangga. Belum lagi dampak ke penduduk dunia lain karena menurunnya kemampuan hutan untuk menghasilkan oksigen dan menyerap gas-gas polutan lainnya yang berpengaruh besar pada perubahan iklim dunia. Indonesia adalah pemilik wilayah hutan tropis terluas kedua di dunia. Kemampuan pemerintah untuk menata ruang dan membuat peraturan kurang mempertimbangkan lingkungan. Itupun masih ditambah lagi dengan kelemahan penegakan hukum dan disiplin kepemimpinan. Korupsi dan ketidakpedulian membuat upaya menjaga dan memperbaiki ekosistem makin parah. Hal yang paling merisaukan adalah perbuatan dari pengusaha dan institusi internasional yang mempunyai kepentingan politik, ekonomi dan lainnya. Mereka memberikan iming-iming dan arahan yang menyesatkan ditengah keluguan, kerakusan, serta kebodohan pejabat pemerintah pusat, daerah dan pengusaha lokal. Mereka inilah yang menjadi penadah dari penggalian sumberdaya alam yang tidak bertanggungjawab ini. Barulah setelah dampak perubahan iklim global mulai mengancam kehidupan mereka juga maka Indonesia ditekan untuk memperhatikan lingkungan. Sayangnya, mereka sendiri enggan mengurangi polusi yang dihasilkan oleh industri di negara masing-masing. Padahal, mereka justru pencemar lingkungan yang paling besar yang selama ini menjadi sumber utama perubahan iklim global. Kegagalan Indonesia untuk menyelamatkan diri dari perubahan iklim dapat dipastikan akan menyeret juga negara-negara lain di dunia ke dalam permasalahan yang sama, hanya waktunya saja yang berbeda. Kiamat akan datang dari Indonesia dan menyebar ke seluruh dunia. Grup pemerhati pemanasan global telah merangkum dan menyusun informasi di internet tentang akibat dari pemanasan global di Indonesia baik ditinjau dari aspek lingkungan, sosial, ekonomi, kesehatan dan budaya. 1. Ketahanan Pangan Terancam Produksi Pertanian Tanaman pangan dan perikanan akan berkurang akibat banjir, kekeringan, pemanasan dan tekanan air, serangan hama dan penyakit, kenaikan air laut, serta angin yang kuat. Perubahan iklim juga akan mempengaruhi waktu tanam dan waktu panen, di beberapa tempat masa tanam lebih panjang tetapi di lain tempat justru menjadi lebih singkat. Peningkatan suhu 1oC diperkirakan akan menurunkan panen padi di negara tropis sebanyak 10%. Dengan demikian bahaya kelaparan akan mengancam penduduk di mana-mana. 2. Risiko Kesehatan Cuaca yang ekstrim akan mempercepat penyebaran penyakit baru dan bisa memunculkan penyakit lama yang sudah jarang ditemukan saat ini. Badan Kesehatan PBB memperkirakan bahwa peningkatan suhu dan curah hujan akibat perubahan iklim sudah menyebabkan kematian 150.000 jiwa setiap tahun. Penyakit seperti malaria, diare, dan demam berdarah (dengee) diperkirakan akan meningkat di negara tropis seperti Indonesia. 3. Air Ketersediaan air berkurang 10%-30% di beberapa kawasan terutama di daerah tropika kering. Kelangkaaan air akan menimpa jutaan orang di Asia Pasifik akibat musim kemarau berkepanjangan dan intrusi air laut ke daratan. Masyarakat yang tinggal di sepanjang pantai akan sangat menderita. 4. Ekonomi Kehilangan lahan produktif akibat kenaikan permukaan laut dan kekeringan, bencana, dan risiko kesehatan mempunyai dampak pada ekonomi. Sir Nicolas Stern, penasehat perdana menteri Inggris mengatakan bahwa dalam 10 atau 20 tahun mendatang perubahan iklim akan berdampak besar terhadap ekonomi. Stern mengatakan bahwa dunia harus berupaya mengurangi emisi dan membantu negara-negara miskin untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim demi kelangsungan pertumbuhan ekonomi. Ia menjelaskan bahwa dibutuhkan investasi sebesar 1% dari total pendapatan dunia untuk mencegah hilangnya 5%-20% pendapatan di masa mendatang akibat dampak perubahan iklim. 5. Dampak sosial, budaya dan politik Bencana terkait perubahan iklim akan meningkatkan jumlah pengungsi di dalam suatu negara maupun antar negara. Proses mengungsi ini membuat orang menjadi miskin dan terpisah dari akar sosial dan budaya mereka, terutama hubungan dengan tanah leluhur dan kearifan budaya mereka. Di sisi lain, krisis pangan, air dan sumberdaya terus meningkat, sehingga akan menimbulkan konflik horizontal dan akhirnya bisa memicu konflik politik di dalam negara maupun antar negara. 6. Dampak Lingkungan – kepunahan. Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan global karena sebagian besar lahan akan dihuni manusia. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Banyak jenis makhluk hidup akan terancam punah akibat perubahan iklim dan gangguan pada kesinambungan wilayah ekosistem (fragmentasi ekosistem), misalnya terumbu karang akan kehilangan warna akibat cuaca panas, menjadi rusak atau bahkan mati karena suhu tinggi. Para peneliti memperkirakan bahwa 15%-37% dari seluruh spesies dapat menjadi punah di enam wilayah bumi pada 2050. Keenam wilayah yang dipelajari mewakili 20% muka bumi. F. Dampak Perubahan Iklim terhadap Pertanian dan Perikanan Berdasarkan data dan keterangan dari beberapa lembaga dan peneliti iklim dan cuaca, perubahan iklim global telah mempengaruhi pertanian dan perikanan dunia. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika juga menerangkan bahwa telah terjadi penyimpangan cuaca di Indonesia sebagai akibat dari anomali suhu permukaan laut yang cenderung hangat. Anomali ini juga terjadi di beberapa negara diantaranya Pakistan, Cina dan Rusia. Di Kabupaten Sumbawa sendiri dampak dari global climate change ini tidak hanya dirasakan oleh para nelayan yang fokus usahanya mencari dan menangkap ikan di laut, namun juga seluruh kalangan masyarakat terutama petani yang mana profesi ini digeluti oleh sebagian besar masyarakat Pulau Sumbawa dan Indonesia umumnya. Setahun terakhir banyak sekali petani yang mengalami gagal panen dan nelayan tidak melaut akibat kondisi iklim dan cuaca yang tidak menentu. Jadwal dan pola tanampun mengalami perubahan, kondisi ini diperparah karena sebagian besar petani dan nelayan kita khususnya di Kabupaten Sumbawa merupakan bertani dan nelayan tradisional yang mana iklim dan cuaca merupakan faktor penentu sekaligus pembatas keberhasilan usaha mereka. Jane Lubchenco Kepala Badan Nasional Kelautan dan Atmosfir (NOAA) Amerika Serikat dalam kunjungannya ke Indonesia beberapa waktu lalu menerangkan bahwa perubahan iklim telah menimbulkan sirkulasi arus laut dunia atau yang selama ini dikenal dengan sebutan Great Ocean Conveyor Belt telah berubah. Hal ini menimbulkan dampak yang signifikan terhadap laut dan mengakibatkan kondisi yang ekstrem. Air laut bisa menjadi sangat panas atau sebaliknya sangat dingin sekali. Sementara itu Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) Dr. Gellwynn Yusuf dalam salah satu media masa nasional mengatakan, dengan berubahnya sirkulasi arus laut dunia, akan membawa dampak yang sangat besar khususnya di bidang perikanan. Hasil kajian ilmiah yang dilakukan oleh K.E.Trenberth membuktikan bahwa selama 50 tahun terakhir, suhu atmosfir bumi dan konsentrasi karbon dioksida (CO2) terus meningkat, yang secara langsung kondisi ini juga menaikkan suhu bumi termasuk komponen akuatik, yaitu sungai, danau dan laut. Dalam salah satu tulisannya “Effects of Global Climate Change on Marine and Estuarine Fishes and Fisheries”, J.M. Roessig menyebutkan bahwa dalam 10 tahun terakhir, paras laut meningkat setinggi 0,1-0,3 m dan kemungkinan menutupi area seluas 1 juta km2. Armi Susandi, pakar perubahan iklim dari Institut Teknologi Bandung juga sepakan akan hal ini, dia mengatakan bahwa jika permukaan air laut naik setinggi 1 meter, diperkirakan lahan persawahan seluas 346.808 hektar dan juga 700 buah pulau di Indonesia akan terancam tenggelam yang mana 5% diantaranya pulau yang berpenghuni. Jika tidak segera ditangani dan berupaya mencari solusi yang tepat, perubahan iklim global (global climate change) dikhawatirkan akan mengancam sistem ketahanan pangan kita. Bahkan saat ini disadari atau tidak global climate change telah memberikan dampak pada sektor industri pertanian dan perikanan di Indonesia dan dunia baik yang bersekala besar maupun tradisional, pada akhirnya kondisi ini berimbas pada menurunya pendapatan sekaligus menghambat perputaran roda perekonomian masyarakat. Karena dampak dari global climate change ini dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung serta muncul dalam variasi waktu yang berbeda, maka dibutuhkan kesigapan, strategi dan perencanaan yang matang dari pemerintah dan pmerintah daerah dengan memanfaatkan inovasi teknologi, melakukan kajian yang konfrehansif dan multidisipliner serta menjalin kerja sama dengan semua pihak untuk dapat menduga sekaligus mengantisipasi dampak yang lebih luas dari fenomena perubahan iklim global (global climate change) ini. G. Dampak Perubahan Iklim terhadap Mangrove di Indonesia Perubahan iklim memiliki dampak yang cukup besar bagi Indonesia. Dampak tersebut diantaranya adalah perubahan pola dan distribusi curah hujan, bencana banjir dan tanah longsor, dan naiknya permukaan air laut. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menghadapi resiko kehilangan banyak pulau-pulau kecil dan menyempitnya kawasan pesisir akibat naiknya permukaan air laut. Gregory dan Oerlemans (1998) memprediksi suhu udara meningkat sekitar 0,30C dan peningkatan muka air laut global sekitar 6 cm setiap 10 tahun. Susandi et al. (2008) memprediksi kenaikan muka air laut untuk wilayah Indonesia hingga tahun 2100 sekitar 1,1 m yang berdampak pada hilangnya daerah pantai dan pulau-pulau kecil seluas 90.260 km2 atau tenggelamnya sekitar 115 buah pulau. Selain itu para ahli telah memperkirakan presipitasi di Asia Tenggara yang akan meningkat sekitar 3,6% di tahun 2020-an, 7,1% di tahun 2050, dan 11,3% di tahun 2080-an. Nampaknya iklim di Asia Tenggara di masa yang akan datang akan menjadi lebih panas dan lebih basah daripada kondisi saat ini yang memicu terjadinya banjir dan longsor di musim penghujan, dan kekeringan di musim kemarau. Berdasarkan fenomena di atas, maka perubahan iklim global akan menyebabkan hilangnya hutan mangrove yang tumbuh di pulau-pulau kecil seiring dengan tenggelamnya pulau-pulau tersebut. Disamping itu, akan terjadi penyempitan lebar hutan mangrove yang tumbuh di pantai-pantai pulau yang tidak tenggelam tetapi lahan di kawasan pesisir di belakang mangrove banyak diokupasi oleh penduduk. Namun, bagi mangrove yang tumbuh di kawasan pesisir yang tidak banyak diokupasi oleh penduduk, diperkirakan lebar mangrove akan meluas ke pedalaman. H. Pencegahan dan Penanggulangan Perubahan Iklim Global Perubahan iklim ini harus diatasi bersama-sama dan tidak ditunda-tunda. Setiap negara harus memberi kontribusi dengan tindakan-tindakan yang dilakukan di dalam negerinya sendiri sesuai kemampuan masing-masing. Negara maju harus membantu negara miskin. Bentuk bantuan itu tidak saja berupa bantuan teknis dan ekonomi, namun dibutuhkan juga tekanan politik yang positif untuk menanamkan urgensi masalah ini dan mendapatkan komitmen dari para pemimpin untuk bertindak. Apabila negara-negara maju mau memperlambat laju pertumbuhan kemakmurannya dan memberikan kesempatan kepada negara yang miskin untuk meningkatkan kemakmuran dengan cara yang bertanggungjawab terhadap lingkungannya, maka pada suatu saat akan tercapai suatu ekuilibrium yang membuat perbuatan manusia semakin berimbang dan perubahan iklim global pun akan cenderung kembali ke arah yang positif. Mengingat begitu seriusnya dampak pemanasan global dan perubahan iklim kiranya sangat penting untuk melakukan upaya-upaya pencegahan terutama dimulai dari hal-hal kecil yang dapat kita lakukan pada skala rumah tangga seperti di bawah ini 1. Hemat penggunaan listrik a. Gunakan lampu hemat energi b. Pilih alat-alat elektronik yang kapasitasnya sesuai kebutuhan rumahtangga kita, misalnya Magic Com/Magic Jar sesuai kebutuhan sekeluarga sehari; c. Gunakan mesin cuci sesuai kapasitasnya, bila cucian sangat sedikit sebaiknya dikumpulkan dahulu hingga sesuai dg kapasitas mesin cuci kita; d. Matikan alat-alat elektronik yang sedang tidak digunakan; e. Upayakan rumah berventilasi baik sehingga tidak terlalu tergantung pada penggunaan Air Condition (AC); f. Upayakan rumah mendapatkan cahaya matahari secara optimal sehingga pada siang hari tidak perlu menggunakan lampu. 2. Hemat penggunaan kertas dan tinta a. Untuk keperluan menulis konsep/corat-coret sebaiknya menggunakan kertas bekas, misalnya bekas print yang baliknya masih kosong b. Batasi penggunaan produk disposable/sekali pakai misalnya: tissue, diaper/pamper, dsb c. Kertas-kertas bekas dikumpulkan dan diberikan kepada pemulung. 3. Hemat penggunaan air Berikut ini tips-tips hemat air: a. Bila menggunakan shower atau washtafel, matikan kran pada saat anda bercukur, menggosok gigi dan kramas dengan cara ini anda dapat berhemat sampai dengan lebih dari 6000 L air perminggu; b. Kumpulkan air bekas mencuci sayur, gunakan air bekas ini untuk sekedar menyiram tanaman, merendam lap-lap kotor dll.; c. Lakukan cuci mobil menggunakan air dalam ember dan lap, jangan gunakan kran air; d. Periksa secara berkala dan ganti kran atau pipa air yang mulai bocor, anda dapat menghemat hingga 9500 Liter air perbulan. 4. Hemat penggunaan bahan bakar a. Lakukan perawatan yang baik pada mesin kendaraan anda; b. Periksa tekanan ban kendaraan anda, tekanan ban yang akurat dapat menghemat BBM; c. Hindari penggunaan kendaraan yang sistem pembakaran pada mesinnya sudah tidak efisien; d. Gunakan kendaraan sesuai kebutuhan, misalnya jika hanya bepergian sendiri lebih baik gunakan sepeda motor daripada mobil; 5. Pengelolaan sampah/limbah yang baik a. Pisahkan sampah organik dan non organik, sampah organik. Dapat dibuat kompos; b. Sampah organik dapat dibuat bahan isian untuk biopori; c. Hindari membakar sampah; d. Bila berbelanja bawalah tas belanjaan sendiri, sehingga menghindari penggunaan tas plastik. KESIMPULAN 1. Perubahan Iklim Global adalah perubahan pola perilaku iklim dalam kurun waktu tertentu yang relatif panjang (sekitar 30 tahunan). Perubahan Iklim Global ini merupakan perubahan unsur-unsur iklim (suhu, tekanan, kelembaban, hujan, angin,dan sebagainya) secara global terhadap normalnya 2. Perubahan iklim global Indonesia dirasakan sebagai kenaikan suhu rata-rata tiap tahun, musim hujan datang lebih lambat, variasi musiman dan cuaca ekstrim , kenaikan permukaan air laut, dan lainnya 3. Penyebab perubahan iklim global antara lain adalah efek dari pemanasan global dan efek rumah kaca 4. Dampak perubahan iklim global antara lain perubahan jumlah curah hujan, mencairnya es di kutub utara, naiknya permukaan laut, dan lain-lain. 5. Di Indonesia dampak perubahan iklim global anatara lain kerusakan pesisir pantai termasuk mangrove, turunnya produksi pertanian dan perikanan, tingginya variasi penyakit seperti malaria, dan lain-lain
Senin, 14 April 2014
Posted by Unknown

Kelembapan Udara

     Definisi kelembaban udara adalah banyaknya kandungan uap air di atmosfer. Udara atmosfer adalah campuran dari udara kering dan uap air. Beberapa cara untuk menyatakan jumlah uap air yaitu :

  1. Tekanan uap adalah tekanan parsial dari uap air. Dalam fase gas maka uap air di dalam atmosfer seperti gas sempurna (ideal).
  2. Kelembaban mutlak yaitu massa air yang terkandung dalam satu satuan volume udara lengas.
  3. Nisbah percampuran (mixing ratio) yaitu nisbah massa uap air terhadap massa udara kering.
  4. Kelembaban spesifik didefinisikan sebagai massa uap air persatuan massa udara basah.
  5. Kelembaban nisbi (RH) ialah perbandingan nisbah percampuran dengan nilai jenuhnya dan dinyatakan dalam %.
  6. Suhu virtual.
 Besaran yang sering dipakai untuk menyatakan kelembaban udara adalah kelembaban nisbi yang diukur dengan psikrometer atau higrometer. Kelembaban nisbi berubah sesuai tempat dan waktu. Pada siang hari kelembaban nisbi berangsur – angsur turun kemudian pada sore hari sampai menjelang pagi bertambah besar.

Pola Curah Hujan Di Indonesia

     Pola curah hujan di setiap wilayah di Indonesia sangat bervariasi dikarenakan berbagai faktor seperti letak geografis, topografi, dan lainnya. Jadi di Indonesia tidak ada batas yang jelas antara musim penghujan dan musim kemarau, ini dikarenakan Indonesia terletak di Daerah Konvergensi Antar Tropik. Jadi kalau kalian lihat di berita kadangkala pada bulan yang sama di Jakarta banjir akan tetapi di Kupang dilanda kekeringan. Jadi jangan jangan beranggapan bahwa ketika sudah masuk musim hujan, maka semua daerah di Indonesia akan hujan. Berikut adalah pola pergerakan curah hujan yang ada di Indonesia.

1. Pantai sebelah barat setiap pulau memperoleh curah hujan lebih besar dibandingkan pantai bagian timur.
2. Jumlah curah hujan di Indonesia bagian barat lebih besar dibandingkan wilayah timur.
3. Curah hujan bertambah sesuai dengan ketinggian tempat. Curah hujan terbanyak terdapat pada ketinggian 600 - 900 mdpl.
4. Di daerah pedalaman pulau, musim hujan jatuh pada musim pancaroba.
5. Bulan maksimum hujan sesuai dengan letak DKAT.
6. Pola curah hujan bergeser dari barat ke timur
  • Pantai barat Sumatera sampai Bengkulu mendapat curah hujan terbanyak pada bulan November
  • Lampung dan Bangka yang berada di timur Sumatera mendapat hujan terbanyak pada bulan Desember
  • Jawa bagian utara, Bali, Nusa Tenggara mendapat curah hujan pada bulan Januari - Februari.
7. Di daerah Sulawesi Selatan bagian timur, Sulawesi Tenggara, Maluku Tengah musim hujan berlangsung sekitar bulan Mei - Juni. Pada saat itu daerah lain sedang mengalami musim kemarau. Batas daerah musim kemarau dan musim hujan kira-kira terletak di sekitar 120 BT.

Rata-rata curah hujan di Indonesia setiap tahunnnya tidak sama, ada yang curah hujannya tinggi sepanjang tahun, ada yang curah hujannya rendah sepanjang tahun. Terdapat 3 jenis pola hujan di Indoensia yaitu

1. Pola Monsoon: memiliki perbedaan yang jelas antara musim hujan dan musim kemarau.
2. Pola Equatorial: memiliki 2 puncak musim hujan (bimodial) yang biasanya terjadi pada bulan Maret dan Oktober.
3. Pola Hujan Lokal: hanya memiliki satu puncak musim hujan (unimodial)

Pola Curah Hujan Indonesia

Berikut adalah tabel curah hujan tahunan rata-rata di Indonesia

Sumber:
BMKG

Iklim

A. Pengertian Iklim
     Iklim adalah kondisi rata-rata cuaca berdasarkan waktu yang panjang untuk suatu lokasi di bumi atau planet lain. Studi tentang iklim dipelajari dalam klimatologi.
Iklim di suatu tempat di bumi dipengaruhi oleh letak geografis dan topografi tempat tersebut. Pengaruh posisi relatif matahari terhadap suatu tempat di bumi menimbulkan musim, suatu penciri yang membedakan iklim satu dari yang lain. Perbedaan iklim menghasilkan beberapa sistem klasifikasi iklim.
Berdasarkan posisi relatif suatu tempat di bumi terhadap garis khatulistiwa dikenal kawasan-kawasan dengan kemiripan iklim secara umum akibat perbedaan dan pola perubahan suhu udara, yaitu kawasan tropika (23,5°LU-23,5°LS), subtropika (23,5°LU-40°LU dan 23°LS-40°LS), sedang (40°LU-66,5°LU dan 40°LS-66,5°LS), dan kutub (66,5°LU-90°LU dan 66,5°LS-90°LS).

B. Pembagian Iklim
       Iklim di suatu daerah berkaitan erat dengan letak garis lintang dan ketinggiannya di muka bumi. Berdasarkan letak garis lintang dan ketinggian tersebut, maka iklim dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu iklim matahari dan iklim fisis.
a.
Iklim Matahari
Iklim matahari didasarkan pada banyak sedikitnya sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi. Pembagiannya dapat Anda perhatikan pada gambar 24 berikut.
Gambar 22: Pembagian daerah iklim matahari
Untuk lebih memperdalam pemahaman tentang pembagian iklim matahari tersebut di atas dapat Anda pelajari pada uraian berikut.
1)
Iklim Tropis
Iklim tropis terletak antara 0° – 231/2° LU/LS dan hampir 40 % dari permukaan bumi.
Ciri-ciri iklim tropis adalah sebagai berikut: Suhu udara rata-rata tinggi, karena matahari selalu vertikal. Umumnya suhu udara antara 20- 23°C. Bahkan di beberapa tempat rata-rata suhu tahunannya mencapai 30°C.

  • Amplitudo suhu rata-rata tahunan kecil. Di kwatulistiwa antara 1 – 5°C, sedangkan ampitudo hariannya lebih besar.
  • Tekanan udaranya rendah dan perubahannya secara perlahan dan beraturan.
  • Hujan banyak dan lebih banyak dari daerah-daerah lain di dunia.
2)
Iklim Sub Tropis
Iklim sub tropis terletak antara 231/2° – 40°LU/LS. Daerah ini merupakan peralihan antara iklim tropis dan iklim sedang.
Ciri-ciri iklim sub tropis adalah sebagai berikut:
  • Batas yang tegas tidak dapat ditentukan dan merupakan daerah peralihan dari daerah iklim tropis ke iklim sedang.
  • Terdapat empat musim, yaitu musim panas, dingin, gugur, dan semi. Tetapi musim dingin pada iklim ini tidak terlalu dingin. Begitu pula dengan musim panas tidak terlalu panas.
  • Suhu sepanjang tahun menyenangkan. Maksudnya tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin.
  • Daerah sub tropis yang musim hujannya jatuh pada musim dingin dan musim panasnya kering disebut daerah iklim Mediterania, dan jika hujan jatuh pada musim panas dan musim dinginnya kering disebut daerah iklim Tiongkok.
3)
Iklim Sedang
Iklim sedang terletak antara 40°- 661/2° LU/LS. Ciri-ciri iklim sedang adalah sebagai berikut:
  • Banyak terdapat gerakan-gerakan udara siklonal, tekanan udara yang sering berubah-ubah, arah angin yang bertiup berubah-ubah tidak menentu, dan sering terjadi badai secara tiba-tiba.
  • Amplitudo suhu tahunan lebih besar dan amplitudo suhu harian lebih kecil dibandingkan dengan yang terdapat pada daerah iklim tropis.
4)
Iklim Dingin (Kutub)
Iklim dingin terdapat di daerah kutub. Oleh sebab itu iklim ini disebut pula sebagai iklim kutub. Iklim dingin dapat dibagi dua, yaitu iklim tundra dan iklim es.
Ciri-ciri iklim tundra adalah sebagai berikut:
  • Musim dingin berlangsung lama
  • Musim panas yang sejuk berlangsung singkat.
  • Udaranya kering.
  • Tanahnya selalu membeku sepanjang tahun.
  • Di musim dingin tanah ditutupi es dan salju.
  • Di musim panas banyak terbentuk rawa yang luas akibat mencairnya es di permukaan tanah.
  • Vegetasinya jenis lumut-lumutan dan semak-semak.
  • Wilayahnya meliputi: Amerika utara, pulau-pulau di utara Kanada, pantai selatan Greenland, dan pantai utara Siberia.
Sedangkan ciri-ciri iklim es atau iklim kutub adalah sebagai berikut:
• Suhu terus-menerus rendah sekali sehingga terdapat salju abadi.
• Wilayahnya meliputi: kutub utara, yaitu Greenland (tanah hijau) dan Antartika di kutub selatan.
b.
Iklim Fisis
Apa yang dimaksud dengan iklim fisis. Iklim fisis adalah menurut keadaan atau fakta sesungguhnya di suatu wilayah muka bumi sebagai hasil pengaruh lingkungan alam yang terdapat di wilayah tersebut. Misalnya, pengaruh lautan, daratan yang luas, relief muka bumi, angin, dan curah hujan.
Iklim fisis dapat dibedakan menjadi iklim laut, iklim darat, iklim dataran tinggi, iklim gunung/pegunungan dan iklim musim (muson).
1) Iklim laut (Maritim)
Iklim laut berada di daerah (1) tropis dan sub tropis; dan (2) daerah sedang. Keadaan iklim di kedua daerah tersebut sangat berbeda.
Ciri iklim laut di daerah tropis dan sub tropis sampai garis lintang 40°, adalah sebagai berikut:
a) Suhu rata-rata tahunan rendah;
b) Amplitudo suhu harian rendah/kecil;
c) Banyak awan, dan
d) Sering hujan lebat disertai badai.
Ciri-ciri iklim laut di daerah sedang, yaitu sebagai berikut:
a) Amplituda suhu harian dan tahunan kecil;
b) Banyak awan;
c) Banyak hujan di musim dingin dan umumnya hujan rintik-rintik;
d) Pergantian antara musim panas dan dingin terjadi tidak mendadak dan tiba-tiba.
2)
Iklim Darat (Kontinen)
Iklim darat dibedakan di daerah tropis dan sub tropis, dan di daerah sedang. Ciri-ciri iklim darat di daerah tropis dan sub tropis sampai lintang 40(, yaitu sebagai berikut:
a) Amplitudo suhu harian sangat besar sedang tahunannya kecil; dan
b) Curah hujan sedikit dengan waktu hujan sebentar disertai taufan.
Ciri iklim darat di daerah sedang, yaitu sebagai berikut:
a) Amplitudo suhu tahunan besar;
b) Suhu rata-rata pada musim panas cukup tinggi dan pada musim dingin rendah; dan
c) Curah hujan sangat sedikit dan jatuh pada musim panas.
3)
Iklim Dataran Tinggi
Iklim ini terdapat di dataran tinggi dengan ciri-ciri, adalah sebagai berikut:
a) Amplitudo suhu harian dan tahunan besar;
b) Udara kering,
c) Lengas (kelembaban udara) nisbi sangat rendah; dan
d) Jarang turun hujan.
4)
Iklim Gunung
Iklim gunung terdapat di dataran tinggi, seperti di Tibet dan Dekan. Ciri-cirinya, yaitu sebagai berikut:
a) Amplitudo suhu lebih kecil dibandingkan iklim dataran tinggi;
b) Terdapat di daerah sedang;
c) Amplitudo suhu harian dan tahunan kecil;
d) Hujan banyak jatuh di lereng bagian depan dan sedikit di daerah bayangan hujan;
e) Kadang banyak turun salju.
5)
Iklim Musim (Muson)
Iklim ini terdapat di daerah yang dilalui iklim musim yang berganti setiap setengah tahun. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
a) Setengah tahun bertiup angin laut yang basah dan menimbulkan hujan;
b) Setengah tahun berikutnya bertiup angin barat yang kering dan akan menimbulkan musim kemarau.
Selain pembagian iklim menurut letak garis lintang dan ketinggian tempat, berikut ini akan diuraikan tentang pembagian iklim menurut beberapa para ahli antara lain:
a.
Pembagian Iklim Menurut Dr. Wladimir Koppen
Pada tahun 1918 Dr Wladimir Koppen (ahli ilmu iklim dari Jerman) membuat klasifikasi iklim seluruh dunia berdasarkan suhu dan kelembaban udara. Kedua unsur iklim tersebut sangat besar pengaruhnya terhadap permukaan bumi dan kehidupan di atasnya. Berdasarkan ketentuan itu Koppen membagi iklim dalam lima daerah iklim pokok. Masing-masing daerah iklim diberi simbol A, B, C, D, dan E.
  1. Iklim A atau iklim tropis. Cirinya adalah sebagai berikut:
    • suhu rata-rata bulanan tidak kurang dari 18°C,
    • suhu rata-rata tahunan 20°C-25°C,
    • curah hujan rata-rata lebih dari 70 cm/tahun, dan
    • tumbuhan yang tumbuh beraneka ragam.
  2. Iklim B atau iklim gurun tropis atau iklim kering, dengan ciri sebagai berikut:
    • Terdapat di daerah gurun dan daerah semiarid (steppa);
    • Curah hujan terendah kurang dari 25,4/tahun, dan penguapan besar;
  3. Iklim C atau iklim sedang. Ciri-cirinya adalah suhu rata-rata bulan terdingin antara 18° sampai -3°C.
  4. Iklim D atau iklim salju atau microthermal. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut: Rata-rata bulan terpanas lebih dari 10°C, sedangkan suhu rata-rata bulan terdingin kurang dari – 3°C.
  5. Iklim E atau iklim kutub . Cirinya yaitu terdapat di daerah Artik dan Antartika, suhu tidak pernah lebih dari 10°C, sedangkan suhu rata-rata bulan terdingin kurang dari – 3°C.
Dari kelima daerah iklim tersebut sebagai variasinya diperinci lagi menjadi beberapa macam iklim, yaitu:
  1. Daerah iklim A, terbagi menjadi empat macam iklim, yaitu sebagai berikut:
    (1) Af = Iklim panas hujan tropis.
    (2) As = Iklim savana dengan musim panas kering.
    (3) Aw = Iklim savana dengan musim dingin kering.
    (4) Am = Iklim antaranya, musim kering hanya sebentar.
  2. Daerah iklim B, terbagi menjadi dua macam iklim, yaitu:
    (1) Bs = Iklim steppa, merupakan peralihan dari iklim gurun (BW) dan iklim lembab dari iklim A, C, dan D.
    (2) BW = Iklim gurun.
  3. Daerah iklim C, terbagi menjadi tiga macam iklim, yaitu:
    (1) Cs = Iklim sedang (laut) dengan musim panas yang kering atau iklim lembab agak panas kering.
    (2) Cw = Iklim sedang (laut) dengan musim dingin yang kering atau iklim lembab dan sejuk.
    (3) Cf = Iklim sedang (darat) dengan hujan pada semua bulan.
  4. Daerah iklim D, terbagi dua macam iklim, yaitu:
    (1) Dw = Iklim sedang (darat) dengan musim dingin yang kering.
    (2) Df = Iklim sedang (darat) dengan musim dingin yang lembab.
  5. Daerah iklim E, terbagi menjadi 2 macam iklim, yaitu:
    (1) ET = Iklim tundra, temperatur bulan terpanas antara 0( sampai 10(C.
    (2) Ef = Iklim salju , iklim dimana terdapat es abadi.
Perlu Anda ketahui bahwa menurut Koppen di Indonesia terdapat tipe-tipe iklim Af, Aw, Am, C, dan D.
Af dan Am
=
terdapat di daerah Indonesia bagian barat, tengah, dan utara, seperti Jawa Barat, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi Utara.
Aw
=
terdapat di Indonesia yang letaknya dekat dengan benua Australia seperti daerah-daerah di Nusa Tenggara, Kepulauan Aru, dan Irian Jaya pantai selatan.
C
=
terdapat di hutan-hutan daerah pegunungan.
D
=
terdapat di pegunungan salju Irian Jaya.
b.
Pembagian Iklim Menurut F. Junghuhn
Berdasarkan hasil penyelidikan Junghuhn pembagian daerah iklim di Jawa ditetapkan secara vertikal sesuai dengan kehidupan tumbuh-tumbuhan. Perhatikan pada gambar di bawah ini.
Gambar 25: Pembagian iklim menurut Junghuhn
Menurut Junghuhn pembagian daerah iklim dapat dibedakan sebagai berikut
  1. Daerah panas/tropis
    Tinggi tempat antara 0 – 600 m dari permukaan laut. Suhu 26,3° – 22°C. Tanamannya seperti padi, jagung, kopi, tembakau, tebu, karet, kelapa, dan cokelat.
  2. Daerah sedang
    Tinggi tempat 600 – 1500 m dari permukaan laut. Suhu 22° -17,1°C. Tanamannya seperti padi, tembakau, teh, kopi, cokelat, kina, dan sayur-sayuran.
  3. Daerah sejuk
    Tinggi tempat 1500 – 2500 m dari permukaan laut. Suhu 17,1° – 11,1°C. Tanamannya seperti teh, kopi, kina, dan sayur-sayuran.
  4. Daerah dingin
    Tinggi tempat lebih dari 2500 m dari permukaan laut. Suhu 11,1° – 6,2°C. Tanamannya tidak ada tanaman budidaya.
c.
Pembagian Iklim Menurut Mohr
Mohr membagi iklim berdasarkan curah hujan yang sampai ke permukaan bumi, yaitu menjadi tiga golongan sebagai berikut:
  1. Bulan kering (BK), yaitu jumlah rata-rata curah hujan dalam bulan tersebut kurang dari 60 mm.
  2. Bulan sedang (BS, yaitu jumlah rata-rata curah hujan dalam bulan tersebut berkisar antara 60 – 90 mm.
  3. Bulan basah (BB), yaitu jumlah rata-rata curah hujan dalam bulan tersebut 100 mm ke atas.
d.
  1. Bulan kering (BK), yaitu curah hujan yang sampai ke permukaan bumi kurang dari 60 mm.
  2. Bulan basah (BB), yaitu curah hujan yang sampai kepermukaan bumi lebih dari 60 mm
C. Alat Pengukur Iklim
  Tahukah Anda apa alat pengukur cuaca dan iklim? Untuk membuat perkiraan terhadap perubahan-perubahan cuaca dan iklim, Badan Metereologi dan Geofisika (BMG) selalu melakukan pengukuran terhadap unsur-unsur cuaca/iklim. Beberapa alat pengukur cuaca/iklim, antara lain termometer, barometer, hidrometer, anemometer, dan penakar hujan. Berikut ini penjelasan masing-masing Alat Pengukur Cuaca dan Iklim tersebut:
  • Termometer: Tipe paling sederhana dari termometer adalah termometer air raksa dalam kaca atau disebut termometer batang. Jika cuaca hangat, air raksa dalam tabung akan memuai dan sebaliknya jika cuaca dingin, air akan mengerut. Termometer air raksa hanya mencatat kondisi suhu maksimum dan suhu minimum. Termometer pencatat secara otomatis disebut termograf yang akan mencatat segala perubahan suhu. Agar dapat mengukur suhu tempat teduh yang sebenarnya, termometer pencatat diletakkan dalam kotak perlindungan yang dinamakan dengan Sangkar Stevenson.
  • Barometer: Barometer dibedakan menjadi dua macam, yaitu barometer air raksa dan barometer aneroid (altimeter). Barometer air raksa diciptakan oleh Torricelli pada tahun 1643. Barometer air raksa tidak mudah dibawa kemana-mana. Sedangkan, barometer aneroid (altimeter) mudah dibawa kemana-mana. Barometer aneroid dapat pula dimanfaatkan untuk mengukur ketinggian suatu tempat. Tekanan udara normal pada permukaan laut adalah 760 mm atau 1.013 millibar. Garis yang menghubungkan tempat-tempat yang memiliki tekanan udara yang sama pada peta disebut isobar.
  • Higrometer: Alat untuk mengukur kelembapan udara nisbi disebut higrometer rambut. Rambut manusia memiliki sifat memanjang pada udara basah dan memendek pada udara kering. Seberkas rambut dipasang di dalam higrometer. Perubahan panjang pendek rambut akan menggerakkan jarum pada skala.
  • Anemometer: Alat untuk mengukur kecepatan angin disebut anemometer. Alat ini dapat dilihat pada stasiun pangamatan cuaca atau di bandar udara. Anemometer ditempatkan di lapangan terbuka pada tiang yang tinggi. Pada alat ini terdapat beberapa mangkuk untuk menerima tiupan angin. Ketika angin bertiup, angin mengenai mangkuk tersebut sehingga mangkuk berputar. Putaran mangkuk dihubungkan dengan alat pencatat kecepatan. Kecepatan mangkuk berputar tergantung pada kecepatan angin bertiup. Anemometer modern dilengkapi dengan penunjuk arah angin yang dihubungkan dengan komputer. Alat perekam arah angin dan kecepatan angin secara otomatis mencatatnya di atas kertas grafik. Kecepatan angin dinyatakan dalam satuan meter/detik, km/jam, mil/jam.
  • Fluviograf: Alat untuk mengukur besarnya curah hujan disebut fluviograf. Alat ini ditempatkan pada lapangan terbuka agar air hujan yang jatuh tidak terhalang masuk ke dalam alat tersebut. Air hujan yang masuk ke dalam corong ditampung dalam ruang tertutup agar tidak menguap, kemudian diukur dengan menggunakan gelas ukuran sehingga dapat diketahui besarnya curah hujan. Tinggi rendahnya curah hujan dinyatakan dalam mm.

RUMUS DAN CONTOH SOAL KLASIFIKASI IKLIM MENURUT SCHMIDT-FERGUSON

Klasifikasi iklim menurut Schmidt-Ferguson berdasarkan jumlah rata-rata bulan basah dan bulan kerring. Bulan basah adalah bulan dengan rata-rata curah hujan dalam satu bulan kurang dari 60 mm/bln. Sedangkan bulan basah adalah bulan dengan rata-rata curah hujan dalam sebulan lebih dari 100mm/bln. Curah hujan rata-rata perbulan 60-100mm/bln diabaikan.

Klasifikasi iklim menurut Schmidt-Ferguson dilambangkan dengan nilai Q. Nilai Q diperoleh dari hasil pembangian jumlah bulan kering dibagi jumlah bulan basah dikali 100 %.


Rumus:

Q = Jumlah bulan kering / Jumlah bulan basah x 100 %

Setelah diketahui nilai Q yang diperoleh dari hasil pembangian jumlah bulan kering dibagi jumlah bulan basah. Langkah berikutnya dalah mencari nilai Q dalam tabel klasifikasi  nilai Q menurut tipe iklim Schmidt-Ferguson.


Tabel tipe iklim menurut Schmidt-Ferguson



Tipe Iklim Nilai Q Keterangan

A 0,000 - 0,143 Sangat basah

B 0,143 - 0,333 Basah

C 0,333 - 0,600 Agak basah

D 0,600 - 1,000 Sedang

E 1,000 - 1,670 Agak Kering

F 1,670 - 3,000 Kering

G 3,000 - 7,000 Sangat kering

H > 7,000 Luar biasa kering
Contoh 1 Mudah:


Sebuah kota memiliki jumlah bulan kering sebanyak 3 bulan dan jumlah bulan basah sebnyak 6 bulan. Menurut Schmidt-Ferguson, tipe kota tersbut adalah tipe iklim?

a. basah
b. agak basah
c. sedang
d. agak kering
e. kering

Jawab:

Q = jmlh bulan kering / jmlh bulan basah x 100 %
Q = 3 / 6 x 100 %
Q = 0,5 x 100 %
Q = 50 %
Q = 0,5 ( dijadikan angka desimal)

Lihat tabel tipe iklim menurut Schmidt-Ferguson, angka Q=0,5 terdapat pada tipe iklim C yaitu antara 0,333 - 0,600. Jadi, klasifikasi iklim kota tersebut menurut Schmidt-Ferguson adalah tipe iklim C = agak basah


Contoh 2 Sedang:


Perhatikan tabel curah hujan di bawah ini: (mm/bln)

Januari   120                Juli              35
Pebuari  110                Agustus       40
Maret      80                September  101
April       70                 Oktober     109
Mei         45                 Nopember  130
Juni         50                 Desember  160
Berdasarkan data di atas, menurut Schmidt-Ferguson kota tersebut memiliki tipe iklim?
a. A
b. B
c. C
d. D
e. E

Jawab:

Jumlah bln kering (curah hujan <60mm/bln) = 4 bln
Jumlah bln basah (curah hujan >100mm/bln) = 6 bln

Q = jmlh bln kering / jmlh bln basah x 100 %

Q = 4 / 6 x 100 %
Q = 0,667 x 100 %
Q = 66,7 %
Q = 0,667


Lihat tabel tipe iklim menurut Schmidt-Ferguson, angka Q=0,667 terdapat pada tipe iklim D yaitu antara 0,666 - 1,000. Jadi, klasifikasi iklim kota tersebut menurut Schmidt-Ferguson adalah tipe iklim D = sedang.

Popular Post

Blogger templates

Total Pageviews

Materi Sekolah Kelas X

MP3

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © EBL - BHAM -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -